PENELUSURAN CAGAR BUDAYA PECINAN BLORA DAN SEKITARNYA

SEKILAS TENTANG PECINAN DI INDONESIA

Hampir seluruh kota di Indonesia memiliki Kawasan Pecinan yang memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Tipikal kota-kota Jawa pada masa kolonial ditinjau dari tata ruang dan bangunannya terdiri atas alun-alun, masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan kampung Cina.

Kawasan Pecinan tersebut memiliki fungsi sebagai kawasan sentra perdagangan dan permukiman bagi etnis Cina. Pengamatan juga diperkuat dengan adanya klenteng di daerah tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja tetapi juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan komunitas Cina di masa lampau.

Terjadi berbagai macam keragaman dalam menentukan awal mula keberadaan Pecinan di Indonesia. Berbagai bukti dan catatan sejarah membuktikan keberadaan komunitas warga Tionghoa pada masa prakolonial.  Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel.

Setiap daerah atau kawasan memiliki keunikan arsitektur tersendiri, yang terbentuk karena adanya kekhasan budaya masyarakat, kondisi iklim yang berbeda, karakteristik tapak, pengaruh nilai-nilai spiritual yang dianut, dan kondisi politik atau keamanan dari suatu kota atau daerah. Keunikan pada suatu daerah atau kawasan bersifat temporer, yaitu berubah seiring dengan perjalanan waktu. Dalam satu rentang waktu yang panjang, suatu kota atau daerah akan mengalami pergantian penguasa yang seringkali diikuti dengan adanya pergantian kebijakan yang dikeluarkan dan turut mempengaruhi bentukan arsitektur dari suatu daerah atau kawasan. Wujud fisik spasial kota-kota yang ada sekarang ini adalah produk sejarahnya masing-masing dan merupakan superimposisi lapisan zaman, cerminan berbagai kekuatan (budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya) sepanjang proses pembentukannya.

Kedatangan orang Tionghoa ke Asia Tenggara disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena bencana kelaparan, situasi politik, dan karena adanya peluang untuk membuka usaha. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain yang kemudian mendorong sebagian orang Tionghoa untuk meninggalkan negara asalnya. Makin dikenalnya nama Indonesia dengan kondisi alamnya yang subur, kaya akan rempah-rempah, ditunjang dengan letaknya yang strategis dalam dunia pelayaran, membuat pedagang Cina berkeinginan untuk menetap di Indonesia. Tujuan bangsa Cina datang ke Indonesia, sebelum Belanda datang adalah untuk berdagang, mereka mencari rempah-rempah dari penduduk pribumi untuk dibeli atau ditukar dengan barang-barang yang mereka bawa (terutama kain sutera). Melalui ekspedisi yang dilakukan, mereka kemudian mengenal kepulauan Indonesia. Pada awalnya bangsa Cina banyak menetap di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan akhirnya sampai di Pulau Jawa.

Untuk bisa melihat arsitektur Cina di suatu kota, biasanya harus melihat di daerah Pecinannya. Namun, untuk menentukan tempat bekas daerah Pecinan pada suatu kota tidaklah mudah. Hal ini selain karena perkembangan kota yang sangat cepat, juga karena biasanya daerah Pecinan tidak terdokumentasi dengan baik. Sampai saat ini di Kawasan Pecinan masih berdiri bangunan-bangunan dengan aplikasi budaya Cina, yaitu dengan bentuk atap lengkung yang dalam arsitektur Cina disebut atap pelana sejajar gavel. Selain itu, tembok yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, dan beranda depan dan belakang yang luas juga menandakan adanya gaya Eropa dalam bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan.

Seharusnya posisi sejarah dapat dijadikan kenangan yang lebih indah ketika ditempatkan kesejarahan tersebut pada posisi yang benar dan tepat. Keberadaan bangunan kuno di Kawasan Pecinan yang ada sebenarnya dapat dijadikan sebagai aset kota. Bangunan kuno merupakan sebuah monumen hidup, karena merupakan bangunan bersejarah yang masih bersifat fungsional. Sangat disayangkan, beberapa pihak, termasuk pemerintah belum dapat menangkap keberadaan bangunan Pecinan yang ada sebagai aset yang dapat digunakan sebagai salah satu kekayaan budaya lokal.

Perkembangan kawasan baik dari segi perubahan guna lahan maupun bangunan kurang memperhatikan aspek historis yang dimiliki oleh Kawasan Pecinan kota, seperti adanya bangunan baru yang bentuk bangunannya tidak mencerminkan situasi di sekelilingnya, dan perubahan bentuk muka bangunan dari bentuk aslinya, sehingga kesan historis dalam bentuk arsitektur campuran Cina-Eropa pada kawasan tersebut memudar. Apalagi dengan status berupa kepemilikan pribadi, bangunan di Kawasan Pecinan kota, seiring dengan perkembangan sektor ekonomi, dapat dengan mudah berubah menjadi bangunan komersial yang dapat menghilangkan identitas kawasan.

Bentuk awal perumahan masyarakat Cina memang tidak banyak diketahui. Umumnya bangunan hunian mereka akan mengadopsi dengan bentuk umum bangunan hunian masyarakat asli di sekitar mereka. Pada saat Kolonial membangun perumahan bagi warga Belanda, maka komunitas Cina di dalam benteng tersebut akan mengikuti pola perumahan warga Belanda, yaitu bangunan rumah gandeng menerus dengan atau tanpa lantai bertingkat, dengan ukuran lebar rumah yang menghadap ke kanal atau jalan antara 5-8 meter. Bangunan rumah semacam ini disebut dengan tipe stads wooningen atau rumah kota. Pola ini kemudian berkembang menjadi pola bangunan rumah-toko yang terdapat di Pecinan.

Usia dari Arsitektur Cina sama tuanya dengan usia Peradaban Cina. Dari hampir semua sumber infomasi, literatur, gambar, buku-buku, terdapat bukti-bukti yang cukup kuat dan telah teruji, tentang fakta-fakta, bahwa Etnis Cina selalu menggunakan sistem konstruksi asli (lokal) yang menjaga dan memegang teguh prinsip-prisip karakteristiknya mulai dari jaman dahulu kala sampai saat ini. Di berbagai tempat yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Cina, ditemukan bangunan-bangunan dengan sistem konstruksi yang sama.

Sistem konstruksi tersebut dapat menjaga dan menguatkan keberadaannya lebih dari ratusan tahun di daerah yang cukup luas dan tetap membekas sebagai sebuah arsitektur yang terus berkembang, menjaga dan memelihara prinsip-prinsip karakteristiknya, meskipun di Cina sendiri sudak terjadi berkali-kali serangan bangsa asing, baik dalam hal militer, intelektual, maupun spiritual. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Cina memiliki peradaban yang sangat tinggi.

Orang-orang Cina yang mempelajari Arsitektur Barat ini kemudian mengkombinasikan Arsitektur Tradisinal Cina dengan Arsitektur Barat, dengan dominasi Arsitektur Barat, akan tetapi hasilnya tidak terlalu maksimal. Selain itu, tekanan dan paksaan untuk pengembangan permukiman melalui Arsitektur Kontemporer Cina membutuhkan kecepatan konstruksi yang sangat tinggi dan lahan yang cukup luas, yang berarti bahwa bangunan dengan Arsitektur Cina tidak dapat dikembangkan di perkotaan besar, dan digantikan dengan bangunan modern. Meskipun demikian, segala macam ketrampilan seni konstruksi Cina masih digunakan pada arsitektur vernakular di daerah yang cukup luas di Cina.

Pembagian ini terkadang sulit dibedakan secara tegas, karena terkadang terdapat beberapa bangunan yang berfungsi umum, tetapi juga berfungsi pribadi, misalnya bangunan ibadah, ada yang berfungsi untuk umum, tetapi ada pula bangunan ibadah yang berfungsi untuk pribadi, tetapi kerabat dekat bisa juga menggunakannya. Hunian biasanya digambarkan memiliki ciri khas, yaitu bergaya arsitektur Cina, yang dapat dijumpai pada bagian atap bangunan yang umumnya dilengkungkan dengan cara ditonjolkan agak besar pada bagian ujung atapnya yang disebabkan oleh struktur kayu dan juga pada pembentukan atap. Selain bentuk atapnya juga ada unsur tambahan dekorasi dengan ukiran atau lukisan binatang atau bunga pada bumbungannya sebagai komponen bangunan yang memberikan ciri khas menjadi suatu gaya atau langgam tersendiri.

PECINAN DI BLORA

Blora mempunyai kawasan Pecinan dengan karakter yang unik jika dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungan sehingga memberikan dampak pada kehidupan, kebudayaan, struktur bangunan, dan system kemasyarakatan bagi mereka. Blora bukan merupakan daerah pesisir, bukan pula daerah agraris atau pertanian.

Keunikan dan keistimewaan Pecinan Blora terlihat dalam simbolisasi rumah tinggal etnis Cina yang berbeda dengan kawasan Pecinan lainnya. Simbolisasi rumah tinggal etnis Cina tidak lepas dari pengaruh kehidupan sosial-budaya yang merupakan hasil perpaduan dari berbagai kebudayaan yaitu budaya Cina yang kemudian berpadu dengan budaya-budaya lokal. Ini berarti bahwa simbolisasi rumah tinggal di Kawasan Pecinan menampilkan perpaduan kebudayaan pada masyarakat Pecinan yang diwariskan turun temurun. Blora mempunyai sumber daya alam yang kaya dengan pohon Jati, sehingga memberikan pengaruh terhadap struktur bangunan dan bentuk fisik bangunan. Banyak rumah-rumah Cina menggunakan kayu jati sebagai komponen rumah. Selain bahan lokal yang digunakan sebagai komponen rumah, bentuk rumah tinggal etnis Cina di Blora merupakan hasil perpaduan antara arsitektur Cina bercampur dengan arsitektur kolonial. Perpaduan arsitektur tersebut terlihat dalam tipologi bangunan berupa rumah deret baik rumah toko maupun rumah tinggal dimana bentuk atapnya memiliki arsitektur Cina tapi pada detail-detail fasade terdapat keberagaman arsitektur yang mempengaruhinya

  1. 1.     Kawasan Pecinan di Blora

Kawasan Pecinan di blora dapat ditentukan berdasarkan kajian literatur, artefak dokumen dan berdasarkan pengamatan di lapangan. Berdasarkan dokumen sambutan pembukaan “Maleman Tirtonadi” pada tanggal 9 mei 1956 oleh R. Soehirman, Ketua DPRDS kabupaten Blora, diperoleh data bahwa sebaran kawasan Pecinan Blora berada pada jalan Ngawen, Jalan Kamolan, jalan Kawedanan, jalan Sekolah Muhammadiyah, Jalan Pasar, Jalan Darmorini, jalan Tempelan, jalan Pirukunan, Jalan wetan Lodji, Jalan Stasiun, Jalan Cepu, yang sekarang menjadi Jalan Raya Blora Purwodadi, jalan Mr. Iskandar, Jalan Pemuda, jalan Gunung Sumbing, Tentara Pelajar, jalan Gunung Lawu, Jalan Gunung Sindoro, Jalan A Yani, Jalan Dr Sutomo, jalan Sumodarsono, jalan Arum Ndalu, jalan Sudarman, dan Jalan Jenderal Sudirman. 

  1. 2.      Sistem kemasyarakatan kaum Thionghoa Blora

Berdasarkan hasil wawancara sistem kemasyarakatan orang Tionghoa, dikenal 2 (dua) golongan masyarakat Thionghoa, yang masih brtahan sampai sekarang, yaitu:

a.Golongan masyarakat Tionghoa Totok

Golongan masyarakat Tionghoa Totok yaitu golongan kaum Thionghoa yang masih murni. Diindikasikan dengan fakta bahwa mereka berbicara Mandarin atau salah satu dari dialek Cina lainnya di rumah, atau setidaknya generasi tertua yang melakukannya.

b. Golongan masyarakat Tionghoa peranakan

Golongan masyarakat golongan masyarakat Thionghoa yang berasal dari keturunan campuran (hasil kawin atau gundik dengan orang Jawa) atau dikenal dengan istilah “cina bahbah”. Golongan ini sudah tidak berbicara Cina sebagai bahasa dirumahnya, dan orientasi budayanya lebih kearah budaya Jawa umumnya.

Tetapi pada masa Kolonial, terdapat golongan Cina Holand Sprekend, yaitu kaum Tionghoa yang bersekolah di sekolah Belanda, menggunakan bahasa dan berpakaian Belanda.

Bangunan Klentheng Hok tek Bio

Berdasarkan wawancara dengan liem Gwan, salah seorang pemuka agama Kong Hu Cu, fungsi klenteng dapat dibedakan dari beberapa segi :

  1. Segi keagamaan, tempat suci untuk menjalankan ibadah kepada Tuhan; Tempat melaksanakan pemujaan kepada leluhur dan tempat melaksanakan upacara keagamaan, tempat menampung segala aktivitas (konsultasi, pendalaman, dan komunikasi) tentang hal-hal keagamaan.
  2. Segi sosial, tempat penyaluran dan pemberian bantuan/amal bagi umat yang kurang mampu serta pada fakir miskin; Tempat kontak sosial antar umat; dan Menyediakan tempat bermalam bagi umat yang membutuhkan ketika berkunjung kesana.
  3. Segi kebudayaan, menampung segala aktivitas untuk mempelajari kebudayaan (kesusastraan, tarian, barongsai) terutama di kalangan generasi muda.
  4. Tempat kegiatan kepemudaan. Untuk olah raga dan pendidikan kepemudaan.

Kondisi Fisik : Bangunan Klentheng Hok Tek Bio sekarang ini telah direnovasi dan mengalamai perubahan bentuk. Yang tersisa dari klentheng lama adalah Jendela dan Teikong atau mensen. Hok Tek Bio sendiri berasal dari kata Hok yang berarti Rezeki, Tek yang berarti kebajikan dan Bio yang berarti bangunan suci atau rumah ibadah. Jadi, hok tek bio diartikan sebagai bangunan suci atau rumah ibadah untuk kebajikan dan rezeki. Klentheng ini dibuat untuk menghormati dewa Bumi atau Fude Zhenshen. Data sejarah pendirian klentheng Hok Tek Bio belum diketahui secara pasti.                       

 1. Rumah Toko Roti Kurnia, Jalan Raya Blora Purwodadi

 Kondisi Fisik : Bangunan tinggal ini masih mempunyai keaslian yang cukup terjaga. Hal ini bisa dilihat dari bentuk pintu, atap, besi konsul teras, ornamen, denah layout bangunan, keramik, dan tembok bangunan yang mencerminkan perpaduan budaya Thionghoa dan kolonial dengan unsur lokal (kayu Jati). Unsur thionghoa bisa dilihat denah layout bangunan, ornamen tembok kusen pintu, pintu yang berjumlah tiga. Unsur kolonial dapat dilihat dari terlihat dengan adanya telundak (semacam teras) yang lebar, hiasan di atas atap rumah, pilar-pilar besar, lampu-lampu gantung yang dipasang pada serambi depan, dan antara jendela dan pintu dipasang cermin besar, tembok rumah yang tebal, pintu lengkung di kanan kiri rumah, dan bentuk atap. Sedangkan unsur lokal dilihat dari bahan kayu jati yang digunakan sebagai ornamen dan daun pintu rumah tersebut.

 

2.   Rumah di jalan raya Blora Purwodadi

Kondisi fisik bangunan masih terawat dengan relatif baik, unsur Pecinan dapat dilihat dari hiasan atap,. Unsur kolonial dapat dilihat dari adanya toko yang merupakan akulturasi kebudayaan kolonial yaitu bangunan rumah gandeng menerus dengan atau tanpa lantai bertingkat, dengan ukuran lebar rumah yang menghadap ke kanal atau jalan. Bangunan rumah semacam ini disebut dengan tipe stads wooningen atau rumah kota.

 

 

 3.  Rumah Jalan Pemuda 15

Kondisi Fisik : Bangunan yang berada di jalan pemuda ini sekarang berubah fungsi menjadi sekolah Pendidikan Usia Dini 1, 2, 3. Dari bentuk fisik, Bangunan tinggal ini masih mempunyai keaslian yang cukup terjaga. Sama halnya dengan rumah tinggal toko roti kurnia, jalan raya blora purwodadi, dilihat dari bentuk pintu, atap, besi konsul teras, ornamen, denah layout bangunan, keramik, dan tembok bangunan yang mencerminkan perpaduan budaya Thionghoa dan kolonial dengan unsur lokal (kayu Jati). Unsur Thionghoa bisa dilihat dari denah layout bangunan, ornamen tembok kusen pintu, pintu yang berjumlah tiga. Unsur kolonial dapat dilihat dari terlihat dengan adanya telundak (semacam teras) yang lebar, hiasan di atas atap rumah, pilar-pilar besar, lampu-lampu gantung yang dipasang pada serambi depan, dan antara jendela dan pintu dipasang cermin besar, tembok rumah yang tebal, pintu lengkung di kanan kiri rumah, dan bentuk atap. Sedangkan unsur lokal dilihat dari bahan kayu jati yang digunakan sebagai ornamen dan daun pintu rumah tersebut.

4.  Rumah Jalan Pemuda

Kondisi Fisik : Dilihat dari fisik, bangunan tersebut masih dalam kondisi terawat. Bangunan ini mempunyai ciri Pecinan dan kolonial yang kuat. Dari denah layout bangunan, bangunan ini menganut denah budaya Pecinan. sedangkan unsur kolonial dengan adanya telundak (semacam teras) yang lebar, pilar-pilar besar, adanya cermin besar pada tembok kanan kiri. Sedangkan unsur lokal dilihat dari bahan kayu jati yang digunakan sebagai ornamen dan daun pintu rumah tersebut.

5.  Rumah jalan Pemuda

Kondisi Fisik : Bangunan tersebut masih terawat dengan baik, unsur pecinan bisa dilihat dari warna-warni ornamen, pintu tiga dalam kaidah cina, sedangkan unsur kolonial dengan adanya telundak (semacam teras) yang lebar, pilar-pilar besar, pintu lengkung pada kanan kiri bangunan. Sedangkan unsur lokal dilihat dari bahan kayu jati yang digunakan sebagai ornamen dan daun pintu rumah tersebut.

6. Rumah jalan Jendral A Yani

Kondisi fisik : Dilihat dari kondisi fisik bangunan, bangunan tersebut masih relatif terawat. Denah layout penempatan bangunan merupakan unsur Pecinan yang kental, sedangkan unsur kolonial dilihat dari bentuk teras, dan tembok yang tebal.

 

 

7. Rumah jalan Gunung Lawu

Kondisi fisik :  Fisik bangunan relatif kurang terawat. Unsur Pecinan pada bangunan dapat dilihat dari lay out bangunan, dan bentuk wuwungan yang menganut atap gravel sejajar. Unsur kolonial dapat dilihat dari adanya toko yang merupakan akulturasi kebudayaan kolonial yaitu bangunan rumah gandeng menerus dengan atau tanpa lantai bertingkat, dengan ukuran lebar rumah yang menghadap ke kanal atau jalan. Bangunan rumah semacam ini disebut dengan tipe stads wooningen atau rumah kota.

8.  Rumah jalan Gunung Lawu

Kondisi fisik bangunan kurang terawat, tetapi ciri khas pecinan dapat dilihat dari lay out bangunan.

 

 

 

 

9. Rumah jalan Gunung Sindoro

Kondisi fisik bangunan masih terawat dengan baik. Unsur pecinan dapat dilihat dari denah layout bangunan yang mencerminkan kekhasan bangunan Cina. Unsur kolonial dilihat dari ornamen yang ada pada konsul bangunan.

 

 

10.  Rumah jalan Tentara Pelajar 

Kondisi fisik bangunan terawat dengan baik. Adanya atap lengkung atau gravel sejajar, ornamen ukiran pada tembok atap bagian belakang mencerminkan unsur pecinan yang kuat, pada bangunan belakang. Selain itu dapat dilihat dari denah layout bangunan. Unsur kolonial pada bangunan tersebut adalah adanya teras, sayap pada teras depan, tembok yang tebal dan ornamen-ornamen pada bangunan depan. 

 

11.  Rumah Jalan Tentara Pelajar 26 

Kondisi fisik : Berlokasi di Jl. Tentara Pelajar No. 26 Blora, Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora. Bentuk  atap  bangunan  ini  adalah  limasan, dengan  bagian  depan  terbuat  dari  kayu,  dan  tembok  untuk  bagian  belakang.  Unsur bangunan Thionghoa dapat dilihat dari denah lay out bangunan.  Sampai  saat  ini  belum  pernah  ada perubahan  pada  bangunan  ini,  dan  masih  terjaga  keasliannya  dengan  baik.

12.  Bangunan di Jalan Arum Dalu

Kondisi fisik  bangunan terawat, karena masih difungsikan sebagai gudang peti mati oleh pemilik, yaitu haji Tek Sun. Atap bangunan atap lengkung atau gravel sejajar.

 

 

 

 

 

13.  Rumah Jalan Mr Iskandar

Kondisi fisik bangunan digunakan sebagai ruko. Unsur kolonial dapat dilihat dari adanya toko yang merupakan akulturasi kebudayaan kolonial yaitu bangunan rumah gandeng menerus dengan atau tanpa lantai bertingkat, dengan ukuran lebar rumah yang menghadap ke kanal atau jalan. Bangunan rumah semacam ini disebut dengan tipe stads wooningen atau rumah kota.

14.  Rumah Jalan Mr Iskandar 

Kondisi fisik bangunan relatif terawat, dengan tembok tebal dan ornamen atap dapat diketahui bahwa bangunan tersebut terakulturasi dengan karakterstik bangunan kolonial.

 

 

 

15.  Toko Clara Kids depan stasiun, jalan jenderal Sudirman

Kondisi fisik terawat, sekarang digunakan sebagai toko baju anak-anak. Pada bangunan belakang mencerminkan budaya Pecinan dengan atap dan ornamennya. Sedangkan pada bagian depan, bangunan tesebut terakulturasi budaya kolonial, dengan ornamen dan tembok yang tebal.

 

16.  Rumah Jalan Gatot Subroto

Kondisi fisik bangunan terawat dengan baik. Unsur Pecinan dapat dilihat dari denah lay out bangunan, bentuk pintu boven dan konsul penyangga. Unsur kolonial dilhat dari pintu lengkung pada tembok yang tebal yang berada pada kanan kiri bangunan.

 

 

17.  Leng Ki (kereta mayat) 

Lengki pada jaman dahulu digunakan sebagai kereta mayat. Kereta jenasah ini dipakai untuk pemakaman jenazah ke pekuburan, yang berajalan antara 3 sampai 10 km, dengan berjalan kaki bagi yang menarik kereta maupun pelayat.

Proses pelayanan perawatan jenazah sampai ke pamakaman ini diatur oleh perkumpulan yang bermana Djien Ho Hwee Joe, kemudian berubah menjadi Song Soe Kiok dan akhirnya berbentuk yayasan budi dharma. Pendirian awal tidak diketahui karena tidak tercatat, tetapi sudah berada di Blora sejak ratusan tahun yang silam.

Kereta jenazah ini berjumlah 4 (empat) unit, dan ada satu yang berasal dari perkumpulan kematian kecamatan Jepon. Berdasarkan wawancara, kemungkinan dahulu di tiap kawedanan terdapat perkumpulan kematian. 

PENUTUP

Berdasarkan kegiatan penelusuran dan pengidentifikasian cagar budaya pecinan yang ada di Blora, maka dapat menarik beberapa kesimpulan, diantaranya yaitu:

  1. Kawasan Pecinan Blora memiliki nilai penting sebagai salah satu cikal bakal Kota Blora yang mempunyai karakteristik Pecinan. Kawasan ini merupakan bagian integral dari Kota Blora yang harus dikembangkan sesuai dengan karakteristiknya. Kawasan ini masih mempunyai integritas karakteristik yang cukup tinggi, baik dari elemen fisik maupun nonfisiknya. Kawasan masih dihuni etnis Tionghoa yang masih menjalankan aktivitas keseharian, tradisi dan adat budaya Cina. Berdasarkan wawancara, didapatkan hasil bahwa masyarakat  thionghoa masih melaksanakan adat dan budayanya seperti merayakan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh dan lainnya, tetapi ada pula yang sudah tidak melakukan adat dan budayanya lagi.
  2. Sebagian besar responden mengetahui sejarah kawasan ini, baik karena pernah mengalaminya atau karena cerita dari orang tua. Menurut mereka, kawasan ini banyak berubah menjadi tidak nyaman tapi semua responden berpendapat bahwa kawasan Pecinan ini harus dilestarikan. Sedangkan menurut persepsi masyarakat non thionghoa atau pengunjung kawasan, kawasan ini banyak berubah tapi juga berpendapat bahwa kawasan Pecinan ini harus dilestarikan. Hal ini merupakan peluang untuk mengembangkan kawasan sekaligus mengaturnya agar karakteristik kawasan tetap terjaga.
  3. Keberadaan BCB juga seharusnya memperkuat komitmen Pemerintah Kota Blora untuk melindungi BCB tersebut dan lingkungannya. Untuk menyusun usulan pelestarian, dibutuhkan dilakukan analisis berdasarkan faktor kekuatan (Strenght), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity) dan ancaman (Threaths). Faktor kekuatan yang mendukung keberlanjutan lanskap 4 kawasan Pecinan adalah integritas lanskap yang masih cukup kuat baik secara fisik pada beberapa area maupun non–fisik berupa aktivitas kehidupan sehari-hari dan aktivitas budaya masyarakat Tionghoa serta rasa bangga masyarakat sebagai keturunan Tionghoa dan kemauan para tokoh Tionghoa untuk melestarikan kebudayaannya. Faktor yang menjadi kelemahan adalah adanya pembangunan yang kurang sesuai dengan karakter Pecinan, minat generasi muda yang tidak mengikuti budaya Tionghoa serta terbatasnya dana untuk melestarikan bangunan-bangunan berarsitektur Tionghoa. Upaya pelestarian yang diusulkan terkait dengan masalah kebijakan dan dukungan pemerintah, tata ruang kawasan dan upaya pelestarian yang melibatkan peran serta semua pihak untuk peningkatan dan pemeliharaan karakter kawasan.
  4. Hasil penelelusuran ini juga menemukan zonasi perlindungan yang meliputi zona inti dan zona penyangga. Zona inti merupakan zona perlindungan intensif yang mencakup obyek bersejarah dan lanskapnya yang masih mempunyai karakter khas Tionghoa yang kuat (kebudayaan, aktivitas kehidupan sehari-hari, dsb). Sedangkan zona penyangga adalah zona yang meliputi daerah di luar zona inti seperti pemukiman disekitar kawasan Pecinan. Untuk melaksanakan upaya pelestarian perlu adanya koordinasi dari semua pihak yang terkait, seperti masyarakat, pemerintah, para ahli, serta upaya ini juga harus terintegrasi dengan keseluruhan aspek pembangunan Kota Blora.
  5. Ini merupakan kajian awal wilayah pecinan blora, sehingga dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk dapat menentukan objek cagar budaya pecinan Blora. (DPPKKI Kab. Blora | Yayasan Mahameru Blora | ft : dok).

 

Kodim Blora Gelar Sosialisasi TMMD Sengkuyung II Tahun 2017 

Kodim 0721 Blora menggelar sosialisasi kegiatan TMMD Sengkuyung Tahap II tahun 2017 di Balai Desa Bedingin, Kecamatan Todanan, Rabu (21/6). Sosialisasi ini dilakukan  sebagai awal kegiatan pelaksanaaan yang direncanakan dibuka tanggal 4 Juli  2017.

Selengkapnya...

Jalan Penghubung Antar Kecamatan Akan Di Cor Beton

Bupati Blora Djoko Nugroho dalam kunjungannya ke Kecamatan Kradenan baru-baru ini mengatakan bahwa Pemkab tahun ini akan mulai melakukan perbaikan dengan sistem cor beton di ruas jalan penghubung Desa Pilang Kecamatan Randublatung menuju Mendenrejo Kecamatan Kradenan.

Selengkapnya...

Pemkab Fasilitasi Mudik Gratis Jakarta - Blora

Pemerintah Kabupaten Blora menyelenggrakan program Mudik Gratis kepada warga masyarakat dari Jakarta menuju kampung halaman di Blora. Sebanyak 108 pemudik dari Jakarta dan sekitarnya difasilitasi dua bus besar oleh Pemkab Blora secara gratis untuk pulang ke kampung halaman.

Selengkapnya...

Kodim Blora dan DPKP Gelar Rapat Koordinasi LTT Pajale

Dalam rangka pencapaian swasembada pangan di wilayah Kabupaten Blora, Kodim 0721/Blora bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora menggelar rapat koordinasi membahas luas tambah tanam (LTT) Padi, Jagung, dan Kedelai (Pajale). 

Selengkapnya...

Polsek Cepu Gelar Buka Bersama Anak Yatim

Polsek Cepu memanfaatkan momentum bulan Ramadhan 1438 H untuk meningkatkan silaturahmi dan berbagi kepada anak yatim piatu. Acara dihardiri Danramil 05/Cepu Kodim 0721/Blora Kapten Inf Ribut Agiyoko, SH. 

Selengkapnya...

PEMKAB BLORA FASILITASI LAYANAN INTERNET TAK BERBAYAR

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) mengembangkan layanan dan fasilitas internet gratis atau tidak berbayar kepada warga masyarakat. Demikian hal itu disampaikan oleh Kepala Dinkominfo Kab. Blora, Drs. Sugiyono, M,Si.

Selengkapnya...

Pelaku UMKM Blora Ikuti Score Plus Training

Puluhan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) Kabupaten Blora selama sebulan lebih menerima bimbingan “Score Plus Training” dari Sampoerna dan BEDO Score Bali. Mereka dilatih tentang desain, pemasaran, pameran, pengembangan produk, ekspor dan pengembangan perusahaan. 

Selengkapnya...

Pemeriksaan Mamin di Swalayan   

Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) bersama Dinas Kesehatan, Satpol PP, dan Polisi melakukan razia makanan dan minuman di swalayan yang ada di wilayah Kota Blora. Hal itu dilakukan untuk mencegah beredarnya makanan dan minuman kadaluarsa dan menyalahi standart kesehatan. 

Selengkapnya...

Kawasan Wisata Religi Makam Sunan Pojok Mulai Ditata 

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Drs. Kunto Aji mengatakan penataan kawasan Makam Sunan Pojok Kota Blora mulai dilaksanakan sejak hari Selasa (30/5). Sejumlah pekerja melakukan pemasangan pagar dari seng sebagai batas pengerjaan proyek. Penataan itu dianggarkan melalui APBD Kabupaten tahun 2017 sebesar Rp833.000.000,00.

Selengkapnya...

Kemendes PDTT Tertarik Kembangkan Wisata Kedungpupur 

Potensi Wana Wisata Migas Kedungpupur di Desa Ledok Kecamatan Sambong Kabupaten Blora terus menjadi perhatian berbagai stakeholder. Setelah bulan lalu Pertamina EP Asset 4 Cepu berminat mengucurkan dana CSR ratusan juta untuk pengembangan Kedungpupur, kini giliran Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang terpikat. 

Selengkapnya...

LAYANAN INFORMASI PUBLIK

Gagak Rimang

Video Gallery


barong_p1.flv barong_p1.flv
Duration: 353
Date: October 18, 2014
Views: 0

barong_p2.flv barong_p2.flv
Duration: 266
Date: October 18, 2014
Views: 0

Link Daerah

   
 Badan Penanaman Modal dan Perijinan Kabupaten BLora    
     
 

 

     
   
     

S I M


Link Kecamatan