Seni dan Budaya

Bangunkan Sahur Dengan Media Kentongan Bambu Masih Mentradisi


Malam mulai bergeser menuju pagi dini hari di musim kemarau 2018. Sekelompk remaja desa sudah bergerombol di sudut simpang empat di wilayah pedukuhan Desa Kamolan, Kecamatan Blora.

Tak berselang lama, mereka memulai aksinya dengan memainkan alat musik perkusi kentongan bambu yang dikolaborasikan dengan sejumlah piranti lainnya seperti bedug kecil, botol minuman, kaleng dan jerigen.

Kemudian menabuhnya sambil berjalan kaki keliling desa dan menyanyikan aneka lagu yang menghibur sambil meneriakkan waktu sahur tiba kepada warga setempat.

Komunikasi perkusi itu masih mentradisi dari generasi ke generasi.

“Saya dan teman-teman keliling desa bangunkan makan untuk sahur. Dengan tetabuhan kentongan bambu. Kebiasaan ini sudah dilakukan oleh para pendahulu sebelumnya, jadi sudah tradisi dan turun-temurun,” kata Aditya, salah seorang remaja desa Kamolan, pemain kentongan bambu, di Blora, Minggu (10/6/2018).

Membuat kentongan bambu, menurut dia, tidak membutuhkan biaya mahal, cukup dengan satu ruas bambu berukuran besar atau sesuai yang dikehendaki.

Guna menghasilkan suara sesuai selera cukup di lobangi bagian tengah, kemudian dipukul dengan alat pemukul seadanya tanpa menyesuaikan nada seperti alat musik diatonis atau pentatonis.

Setelah jadi, biasanya anak-anak atau remaja setempat saling memainkan kentongan secara berkelompok seperti layaknya ensambel musik etnis. Tak heran, kekinian diselingi sejumlah alat musik seperti seruling, ketipung, gitar dan lainnya.

"Kentongan bambu itu biasa di sebut thethek, karena bunyi suara yang dihasilkan tek-tek-tok. Dimainkan untuk membangunkan warga pada malam hari untuk makan waktu sahur," kata Sutikno, salah seorang warga setempat.

Hal senada disampaikan salah seorang peminat seni budaya Andri Prasetyo dari desa Gedongsari, Kecamatan Banjarejo, Kab. Blora.
Ia menjelaskan tradisi memainkan 'thethek' atau ensambel kentongan bambu telah bertahun-tahun menjadi salah satu kegiatan ensambel musik etnis yang mewarnai seni budaya Blora, khususnya pada bulan Ramadan.

"Hampir di seluruh desa dan kelurahan, memeriahkan bulan puasa dengan membuat kentongan bambu, mereka dengan berkelompok berkeliling menggugah warga waktu makan untuk sahur," ujarnya.

Dijelaskannya, kentongan atau 'thethek' tetap mentradisi dan menjadi sisi lain bulan Ramadan di Blora.

“Saya mengapresiasi, selama tidak mengganggu warga masyarakat sekitar dan dilakukan dengan tertib. Ini bukti bahwa di era digitalisasi masih mempertahankan tradisi,” ujar Andri Prasetyo.

Menurutnya, sebaiknya jangan memainkan sebelum waktunya makan untuk sahur tiba agar tidak mengganggu keamanan. Sebab kerap terjadi, karena suka sebagai hiburan, anak-anak dan remaja itu memainkannya pada tengah malam, sehingga terkesan tidak memberi kesempatan pada warga yang ingin berisitirahat. (Dinkominfo Kab. Blora).

    Berita Terbaru

    Porprov Jateng : Novita Persembahkan Medali Emas Cabang Lari Half Maraton
    20 Oktober 2018 Jam 09:52:00

    Kabupaten Blora mengawali perolehan medali di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng XV 2018...

    Kodim Gelar Makutarama Blora Off Road
    20 Oktober 2018 Jam 08:44:00

    Komando Distrik Militer (Kodim) 0721 Blora menggelar event Makutarama Blora Off Road For...

    Porprov Jateng 2018 : Cabor Aeromodelling di Lapter Ngloram
    20 Oktober 2018 Jam 04:32:00

    Bupati Blora Djoko Nugroho mewakili Gubernur Jawa Tengah membuka pelaksanaan Pekan Olahraga...