Seni dan Budaya

Tradisi ‘Ngumbah Pusaka” Masih Bertahan di Bulan Suro


Hampir sebagian warga di Kabupaten Blora masih mempertahankan tradisi membersihkan dan mencuci benda pusaka peninggalan nenek moyang di bulan Suro (Tahun Jawa).

Tradisi itu dipercaya bahwa benda peninggalan seperti keris, mata tombak dan lainnya memiliki kekuatan ghaib sehingga harus dirawat agar mendapatkan keselamatan, perlindungan dan ketentraman.

Di saat itulah, Mulyono (60) warga Desa Todanan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora berkeliling menjual jasa mencuci keris dan benda peninggalan lainnya. Ia mangkal dari tempat satu ke tempat lainnya hingga beberapa hari.

Di trotoar eks stasiun kereta api Blora menjadi salah satu tempatnya untuk kerja. Di tempat itu sejumlah benda pusaka sudah diantrikan oleh pemiliknya untuk dicuci.

Dengan penampilan mengenakan blangkon dan kemaja adat Jawa, Mulyono menjadi perhatian warga yang melintas. Sesekali, ia menunjukkan kebolehannya mendirikan keris setelah dibersihkan.

“Sudah beberapa hari ini, saya di sini. Sudah ratusan benda peningggalan yang saya cuci dan bersihkan. Bahkan sebagian milik orang yang sudah menjadi langganan saya. Ya, alhamdulillah, bulan Suro mendatangkan rejeki untuk saya,” kata Mulyono, di Blora, (29/9/18).

Ia mengaku sudah mulai belajar mencuci keris sejak umur 10 tahun dari almarhum Reso Saji, ayahnya.

“Sejak umur 10 tahun saya ikut Bapak keliling, memikul kentongan dan membantu kerja seperti yang diperitahkan oleh almarhum bapak saya. Akhirnya saya tau dan meneruskan profesinya,” jelasnya.

Aneka benda pusaka yang dicuci, selain keris, ada juga mata tombak, pedang dan golok yang usianya sudah puluhan tahun dan dianggap pusaka oleh pemiliknya.

Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris.

“Tarif saya tergantung tingkat kerumitan atau karat yang ada pada benda. Untuk yang berkarat sedikit Rp15 ribu. Tetapi jika bendanya berkarat tebal atau banyak karatnya saya tarif Rp20 ribu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, setiap hari di bulan Suro, rata-rata mencuci 20 benda pusaka. Beberapa orang mencucikan benda peninggalan miliknya lebih dari satu jenis.

“Benda pusaka yang dimiliki pelanggan saya tidak hanya satu jenis saja. Seorang kadang membawa lebih dari satu benda. Rata-rata peninggalan para leluhur terdahulu. Jadi dari awal hingga bulan Suro berlalu sudah ratusan benda peninggalan yang saya bersihkan,” ujarnya.

Sementara itu Wawan, warga desa Temurejo, Kecamatan Blora, mengatakan setiap bulan Suro dirinya selalu mencuci benda pusaka peninggalan orang tuanya.

“Setiap bulan Suro, benda peninggalan dari orang tua selalu saya bersihkan. Ini ada beberapa benda, ada sejumlah keris dan mata tombak. Benda ini sudah turun temurun,” kata Wawan.

Dikatakannya, sejumlah benda peninggalan yang dimiliki beberapa kali ditawar akan dibeli oleh kolektor benda pusaka.

“Hanya saja tidak kami jual, sebab ini peninggalan. Benda ini konon memiliki aura kedamaian dan menolak energi jahat,” katanya.

Apabila tidak dirawat, kata dia, isi yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar atau akan hilang sama sekali, dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.

“Terlepas dari itu, kami percaya pada kuasa Tuhan. Saya menilai benda peninggalan ini sebagai salah satu karya seni leluhur yang harus dirawat dan dilestarikan,” ujarnya. (Dinkominfo Kab. Blora).

    Berita Terbaru

    Pembangunan Wilayah Perbatasan Dinantikan Masyarakat
    12 Desember 2018 Jam 15:47:00

    Bupati Blora, Jawa Tengah, Djoko Nugroho mengatakan hubungan antara Kabupaten Blora dan...

    Kirab Budaya Hari Jadi Blora ke-269 Meriah
    11 Desember 2018 Jam 09:57:00

    Kirab Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-269 berlangsung meriah dan sukses di gelar...

    Pertemuan Gabungan Persit Sebagai Media Komunikasi dan Berbagi Informasi
    10 Desember 2018 Jam 11:42:00

    Ketua Persatuan Istri (Persit) Kartika Candra Kirana (KCK) LX Batalyon Infanteri (Yonif) 410...