Gurihnya Sermier Desa Wantilgung


Pemerintah Desa Wantilgung Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mendorong pemberdayaan perempuan mengangkat potensi desa melalui industri rumahan kerupuk sermier.

Kepala Desa Wantilgung Yuntarno mengemukakan sejatinya industri rumahan kerupuk sermier itu sudah berlangsung turun temurun dan dikerjakan secara manual.

“Sermier ini berbahan ketela pohon. Rasanya gurih dan sudah cukup terkenal di berbagai wilayah. Hanya saja masih dikerjakan manual dan cenderung tradisional,” katanya, di Blora, Rabu (27/2/2019).

Sampai saat ini, lebih kurang 70 perempuan di desa Wantilgung masih bertahan membuat kerupuk sermier.

“Sebagai sambilan dan menambah penghasilan keluarga. Pembuat semier memang butuh perhatian serius dan terus kita dorong,” katanya.

Pihaknya berharap, segera mendapat pelatihan agar kerupuk sermier bisa menjadi ikon yang lebih dikenal di wilayah desanya.

“Kami berharap dari lembaga terkait untuk segera memberi pelatihan, seperti kemasan dan pemasaran serta kesehatan yang menyangkut kebersihan dan ketentuan uji makanan, sehingga lebih menguntungkan para pembuat sermiyer. Pihak desa sendiri juga berusaha memberi ruang untuk mengangkat potensi yang ada,” jelasnya.

Salah seorang pembuat kerupuk sermier, Darni, mengatakan sampai saat ini tidak mengalami kesulitan bahan baku ketela pohon, hanya saja harganya dinilai mahal.

“Harga ketela pohon satu karung Rp150.000,00. Itu kalau dikupas, kemudian digiling bisa menghasilkan 1.500 lempengan kerupuk,” katanya.

Menurutnya, pembuatan sermier melalui beberapa proses, di antaranya setelah ketela dikupas kemudian digiling, selanjutnya dibuat adonan dicampur bumbu seperti bawang, ketumbar, garam dan daun seledri.

Setelah itu, kemudian dipotong-potong berbentuk bulat, kemudian digilas satu per satu hingga tipis.

“Gilasnya satu per satu dengan botol, kemudian dijemur agar kering. Proses penjemurannya dengan sinar matahari. Jadi kalau tidak ada panas matahari ya tidak membuat,” jelasnya.

Setelah kering, kerupuk sermier mentah kemudian digoreng dalam wajan di atas tungku menggunakan bahan bakar kayu.

“Kerupuk yang sudah digoreng, kemudian dikumpulkan dan dibungkus dengan plastik. Biasanya sudah ada pembeli yang akan menjual keliling atau sudah punya langganan,” katanya.

Lamijan, salah seorang warga Wantilgung mengatakan, cita rasa kerupuk sermier sangat khas dan gurih. Ia dan istrinya sering menerima pesanan baik mentah maupun yang sudah digoreng.

“Kalau mendekati puasa atau menjelang lebaran, saya sering menerima pesanan dari luar daerah Blora,” katanya.

Menurutnya, pemasaran melalui media sosial cukup efektif, namun langkah inovatif itu perlu dilakukan dengan serius dengan tidak meninggalkan yang tradisional. (Dinkominfo Kab. Blora).


    Berita Terbaru

    Karnaval Pelajar di Blora Meriah
    19 Agustus 2019 Jam 07:42:00

    Karnaval pelajar tingkat PAUD/TK, SD dan SMP di Kabupaten Blora berlangsung meriah, Senin...

    Pemkab Blora Serahkan Bantuan Korban Kebakaran Rumah
    18 Agustus 2019 Jam 17:39:00

    Pemkab Blora Blora menyerahkan bantuan kepada para korban kebakaran yang berada di Dukuh Jajar...

    Kapolres Blora Inspektur Upacara Penurunan Bendera Merah Putih
    17 Agustus 2019 Jam 15:53:00

    Kapolres Blora AKBP Antonius Anang Tri Kuswindarto menjadi inspektur upacara penurunan bendera...