Seni dan Budaya

Layani Jamasan Keris, Mbah Mulyono Kembali Tampil di Bulan Suro


Jasa cuci keris atau benda pusaka kembali muncul pada bulan Suro (Jawa) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Salah satunya adalah Mulyono (64) penjual jasa cuci keris atau jamasan pusaka asal Desa Todanan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Meski di masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan kepiawaiannya menjamas pusaka milik warga. Seperti tahun sebelumnya, Mulyono mangkal di trotoar eks stasiun kerata Api Blora. Duduk di atas gelaran tikar plastik dengan sejumlah piranti untuk mencuci keris.

“Saya sudah mulai mangkal disini hari Selasa (10/8/2021). Tetap patuh protokol kesehatan. Kalau jasa cuci keris atau jamas pusaka, masih sama seperti tahun lalu,” ucapnya, di Blora, Rabu (11/8/2021).

Sejumlah keris pusaka miliknya juga dibawa. Ia pun mulai unjuk kebolehan melakukan komunikasi dengan keris pusaka miliknya.  

“Ini saya akan menayuh keris. Tayuh itu tanya atau komunikasi,” ucapnya.

Keris pusaka yang dibawanya kemudian dikeluarkan dari warangka (sarung keris). Mulyono lalu mengambil setutas benang dan mengikatnya di bagian atas (pegangan keris). Selanjutnya, ujung keris itu ditaruh atau ditempelkan pada sebuah alas (batu), tangannya menarik benang seakan menggantung keris, namun tidak sampai terangkat. Ujung keris masih menempel di alas.
Sebelumnya, Mulyono terlebih dahulu mengucapkan mantra agar kekuatan gaib keris yang dimiliki bias diajak komunikasi.

“Saya akan ajukan beberapa pertanyan, kalau keris memutar kekanan berarti iya, kalau memutar ke kiri berarti tidak,” kata dia.

Mulyono lantas melakukannya, diajukan beberapa pertanyaan seperti darimana asal-usulnya, siapa pemilik atau pembuatnya.
Sontak, kepiawaian Mulyono itu memikat para warga yang akan menggunakan jasanya mencuci pusaka.

“Saya tanya, apakah keris saya itu dibuat pada masa Sam Po Kong. Kalau iya akan berputar ke kanan, kalau tidak beputar ke kiri,” kata dia.

Maka kekuatan gaib keris miliknya berputar ke kanan, yang artinya, menurut versi Mulyono, dijawab iya. Atau pertanyaan Mulyono itu diiyakan atau dibenarkan oleh kekuatan gaib keris.

Sementara itu, berbagai sumber menyebutkan Ilmu Tayuh Keris adalah suatu jenis ilmu yang bersifat kebatinan untuk mengetahui sisi gaib dari sebuah keris. Mencari tahu berbagai informasi mengenai sebuah keris, untuk menentukan apakah sebuah keris memiliki isi gaib di dalamnya ataukah kosong, untuk mengetahui perwatakan isi gaib keris, untuk mengetahui jenis tuah keris dan untuk menentukan apakah sebuah keris cocok dimiliki oleh seseorang ataukah tidak.

Ilmu ini bersifat kebatinan, terutama bersifat kepekaan seseorang untuk dapat menilai karakter sebuah keris dan menilai kecocokkannya dengan karakter manusia pemiliknya.

Untuk menayuh sebuah keris, mencaritahu sisi kegaiban dari sebuah keris (isoteri keris) selain menggunakan kemampuan kebatinan dengan dasar kepekaan rasa, sebaiknya kita juga menanyakan atau mencocokkan jawaban pertanyaannya langsung kepada gaib kerisnya.

Inti dari ilmu menayuh adalah menyampaikan komunikasi manusia kepada sesuatu yang gaib untuk mendapatkan jawaban atau informasi tentang sesuatu hal dari sosok gaib yang bersangkutan.

Dalam hal menayuh keris, berarti si manusia berkomunikasi dengan si gaib keris untuk mendapatkan segala sesuatu jawaban informasi tentang si keris.

Secara umum para pemerhati perkerisan, termasuk para kolektor dan pedagang keris, menilai sisi kegaiban sebuah pusaka/keris adalah dengan cara menilai keris dari bentuk fisiknya karena dianggap ada pakem tertentu yang seragam dalam pembuatan keris. Pakem/keseragaman itulah yang digunakan untuk menilai sebuah keris.

Misalnya saja ada anggapan bahwa keris-keris berpamor ngulit semangka, pedharingan kebak, udan mas, dsb adalah keris-keris bertuah kerejekian. Maka jika ada keris-keris yang fisiknya berpamor tersebut, keris-keris itu akan dikatakan bertuah kerejekian. Sesudah itu barulah kerisnya dinilai kecocokkannya dengan orang pemiliknya.

Jadi untuk memperkirakan jenis tuah dari sebuah keris orang akan menilainya atau memperkirakannya dengan cara memperhatikan bentuk fisik kerisnya, seperti bentuk dapurnya, bentuk gambar pamornya,dan sebagainya. Sesudah bisa diperkirakan sisi kegaibannya barulah keris itu dinilai kecocokkannya dengan orang si pemilik keris.

Walaupun cara itu ada benarnya, tetapi bila hanya memperhatikan bentuk fisik kerisnya saja mungkin ada informasi lain tentang kerisnya yang tidak terungkap, yang mungkin perlu diperhatikan, apalagi bila sifatnya merugikan.

Misalnya saja kerisnya berenergi panas atau tajam yang bisa mengganggu kesehatan orang si pemilik keris. Atau keris itu adalah keris keningratan yang kerisnya tidak akan cocok dengan orang pemiliknya yang bukan keturunan ningrat.

Lepas dari menayuh keris, Mulyono mengatakan jasa cuci keris, tombak dan benda pusaka lainnya berkisar antara Rp.15.000,00 hingga Rp20.000,00 per bilah. 

Dirinya menyadari, di tengah wabah Covid-19, banyak warga yang terdampak, termasuk para pemilik benda peninggalan nenek moyang atau koleksi pribadi.

“Jadi saya tidak naikkan jasa, tetap seperti tahun lalu,” kata dia.

Meski demikian, katanya, jasa cuci yang dibuka di lantai eks stasiun kereta api Blora tiap bulan Suro masih didatangi warga yang memiliki aneka jenis keris atau tombak peninggalan.

“Masih ada yang datang, mungkin karena sudah langganan setiap tahun, ini saja sudah enam keris,” ujarnya.

Mulyono juga menyadari, jasa yang dibuka tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab, kali ini harus patuh menerapkan protokol kesehatan sebagaimana ketentuan pemerintah.

“Saya tidak keliling. Cukup mangkal di sini saja, pakai masker dan menyediakan hand sanitizer. Bagi para pelanggan biasanya menghubungi saya lewat handphone. Mereka menanyakan buka atau tidak, setelah saya jawab buka, mereka datang membawa keris,”imbuhnya.

Proses cuci keris bisa ditunggu lebih kurang  dua jam, tergantung jenis dan kotoran yang menempel pada keris atau benda pusaka lainnya.  

Dengan penampilan mengenakan baju lurik, blangkon dan memakai masker, Mulyono menjadi perhatian warga yang melintas. Sesekali, ia juga menunjukkan kebolehannya mendirikan keris setelah atau sebelum dibersihkan.

“Ya, alhamdulillah, bulan Suro mendatangkan rejeki untuk saya meskipun dalam situasi pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Ia mengaku, sudah mulai belajar mencuci keris sejak umur 10 tahun dari almarhum Reso Saji, ayahnya.

“Sejak umur 10 tahun saya ikut  Bapak keliling, memikul kentongan dan membantu kerja seperti yang diperitahkan oleh almarhum bapak saya. Akhirnya saya tahu dan meneruskan profesinya,” tambahnya.

Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris.

Ia juga berharap, agar wabah Covid-19 ini segera sirna sehingga kehidupan berjalan seperti sebelumnya.

“Kalau semua warga bersama-sama patuh protokol kesehatan. InsyaAllah Corona bisa dikendalikan dan kita semua aman,” ujarnya.

Sementara itu Angga, warga Desa Sumberagung Kecamatan Banjarejo, mengatakan, setiap bulan Suro dirinya selalu mencuci benda pusaka peninggalan oang tuanya. 

“Setiap bulan Suro, benda peninggalan dari orang tua selalu saya bersihkan. Ini ada beberapa benda, ada sejumlah keris. Benda ini sudah turun temurun, dari Simbah dan Bapak, satu lagi keris milik saya,” kata dia.

Dikatakannya, sejumlah benda peninggalan yang dimiliki beberapa kali ditawar akan dibeli oleh kolektor benda pusaka.

“Hanya saja tidak kami jual, sebab ini peninggalan. Benda ini kami percaya memiliki aura kedamaian dan menolak energi jahat,” ujarnya.

Apabila tidak dirawat, kata dia, isi yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar  atau hilang sama sekali, dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.

“Terlepas dari itu, kami percaya pada kuasa Tuhan. Saya menilai benda peninggalan ini sebagai salah satu karya seni leluhur yang harus dirawat dan dilestarikan,” jelasnya. (Tim). 

    Berita Terbaru

    Wabup Minta Industri Kecil Menengah di Blora Terus Berinovasi
    17 September 2021 Jam 19:09:00

    Wakil Bupati Tri Yuli Setyowati, ST., MM secara simbolis menyerahkan bantuan untuk kegiatan...

    Infografis Monitoring Data COVID-19, Jumat 17 September 2021
    17 September 2021 Jam 18:22:00

    Infografis monitoring data COVID-19 diharapkan menjadi perhatian seluruh warga masyarakat Blora...

    World Cleanup Day 2021, Wabup Ingatkan Resik Iku Becik
    17 September 2021 Jam 18:20:00

    Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati,ST.,MM., memimpin apel World Cleanup Day 2021 di kawasan...